Members: 105 News: 175 Web Links: 3 Visitors: 85787
Who's Online
We have 2 guests online
Sindikasi Berita
Pemerintah Keok Hadapi Banjir
Musim hujan 2008 menuai bencana banjir yang luas. Di Ibukota, banjir menimbulkan kekacauan besar, korban jiwa, pengungsian, rusaknya infrastruktur, dan terganggunya perekonomian rakyat. Pemerintah berjanji segera menangani dampak banjir setelah musim hujan reda. Bagaimana caranya?
Setelah dihajar banjir cukup telak awal Februari 2008, Pemerintah membuat keputusan terkait penanganan banjir di ibukota dan sekitarnya. Sebagian butir keputusan itu merupakan rencana lama yang berulangkali gagal dieksekusi. Meskipun terlihat ideal, rencana penanggulangan banjir ini diragukan bisa berjalan mulus. Sejumlah masalah seperti pembebasan tanah, minimnya kajian (studi) proyek, serta perbedaan cara pandang antar-aparat pemerintah dalam penanganan banjir, diduga akan menghambat rencana ini.
Banjir 2008 memukul telak wajah Indonesia, di darat, laut, dan udara. Kali ini bukan jumlah korban jiwa yang tercatat "hanya" beberapa orang. Melainkan cakupan wilayah dan akibat yang banjir makin meluas. Banjir tahun ini bukan hanya melumpuhkan ibukota Jakarta tetapi juga merendam Pulau Jawa. Tak kurang Presiden Republik Indonesia merasakan langsung sergapan banjir di ibukota awal Februari 2008 lalu.
Musim hujan yang seharusnya menjadi berkah, berubah menjadi bencana dan musibah. Kematian, kerusakan, pengungsian, penyakit, kemacetan, dan lumpuhnya perekonomian warga menghiasi laporan media sepanjang Februari 2008. Suara Publik melaporkan upaya Badan Koordinasi Nasional Penangananan Bencana yang memilik Satuan Pelaksana Tugas (Satlakgas) dalam upaya meringankan penderitaan warga.
Jalanan bisa berbahaya pada musim apapun. Selama musim hujan 2008, 35 jiwa melayang dalam kecelakaan lalu lintas di kawasan Jabodetabek. Jalanan yang rusak akibat banjir maupun kelebihan beban merupakan penyebabnya. Jalanan yang rusak bisa menjadi faktor pemicu kecelakaan, bisa juga menjadi penghambat pergerakan warga.
Derita sopir tiada akhir, pemeo ini pernah begitu populer saat nasib pengemudi belum sebaik sekarang. Waktu itu profesi sopir sering disamakan dengan pembantu rumah tangga. Belum lagi nasib sopir yang sering dipermainkan aparat pengawas jalanan umum. Namun seiring meningkatnya kebutuhan akan transportasi, posisi sopir semakin strategis dan dihargai.